Milad HMI Ke-75; “Harmoni Umat, Untuk Kemajuan Bangsa”

Posted by Efriyands Kamis, 27 Juni 2024 0 komentar

 



Milad HMI Ke-75; “Harmoni Umat, Untuk Kemajuan Bangsa”

Oleh Efriyandi

Pengurus Badko HMI Sumbagsel 2021-2023, Founder Ruang Kosong.

 

Langkah perjuangan Lafran Pane mendirikan perkumpulan untuk menampung aspirasi umat islam khususnya kalangan mahasiswa di perguruan tinggi saat itutidaklahseperti membalikkan telapak tangan, penuh lika-liku dinamika sosial-politik-budaya yang dilewatinya, organisasi itu bernama Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat HMI (Pasal 1 AD HMI) pada tanggal 5 februari 1947, dengan berasaskan islam (pasal 3 AD HMI). Sejak awal pediriannya, HMI meletakkan dasar perjuangannya yang dikenal dengan 2 (dua) komitment asasi yakni: komitment keindonesiaan dan komitment keislaman. Para kader HMI mengesampingkan tugas kuliah berkorban keringat darah ikut serta berjuang mempertahankan keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia dari kolonialisme dan mempertinggi derajat bangsa dimata dunia. Serta berupaya menjadi vaksin penghancur virus komunisme, islam konservatif yang mewabah khususnya dikalangan mahasiswa islam, virus berbahayayang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam.

Tokoh pemrakasa berdirinya HMI, Lafran Pane melalui suatu wadah organisasi yang dibentuknya bersama beberapa teman kampusnya sampai hari ini telah melahirkan ribuan kader/alumni yang berkiprah dengan latar belakang pengabdiannya masing-masing telah menjadi tokoh pemimpin untuk kemajuan umat, bangsa dan negara. Tentu mereka telah melewati rangkaian proses perkaderan dan berhadapan dengan berbagai problematika kehidupan organisasi dimasanya. Sebut saja Ridwan Saidi yang akrab dikenal babe (budayawan), Nurcholis Madjid (cendikiawan), Sakib Mahmud (cendikiawan), Akbar Tandjung (politisi), Jusuf Kalla (pengusaha dan politisi), Munir (pejuang HAM),  Dr. Sulastomo (penegak pers), Jimly Ashidiqie (penegak konstitusi), dan tokoh lainnya.

Sebagai organisasi kader (pasal 9 AD HMI), HMI berfungsi sebagai kawah candradimuka dalam membentuk generasi insan cita melalui proses perkaderan sebagai wadah pengemblengan individu-kader untuk menjadi pribadi berkualitas-bertauhid agar terwujudnya masyarakat cita sebagai harapannya. Kesadaran HMI bahwa perkaderan merupakan elan vital bagi kemajuan suatu peradaban di masa yang akan datang, sertaperkaderan yang berkualitas akan melahirkan output kader yang berkualitas pula agar melahirkan penerus estafet perjuangan cita-cita umat-bangsa. Adalah suatu kemustahilan akan terwujudnya transformasi masyarakat cita, tanpa melalui proses menempah diri secara sadar sebagai seorang kader umat dan bangsa untuk mencapai insan yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di-ridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Idealisme masyarakat cita yang akan diwujudkan haruslah berimbang dengan iringan semangat api perjuangan yang membara tak pernah redup dalam mewujudkannya, sebagaimana kegigihan para pendahulu dalam melewati segala terpaan badai rintang dalam melangkah. Apalah artinya perjuangan tanpa arah serta teguh berdiri tegak dijalan kebenaran, adalah kemunduran atau bahkan kehancuran yang membawa malapetaka ujungnya tanpa keberpihakan kepada kaum tertindas (mustadh’afin) dan menghancurkan segala bentuk penindasan (mustakfirin). Oleh karena itu, melalui momentum milad HMI yang ke 75 tahun pada 5 februari 2022 ini kita berupaya untuk merekonstruksi kembali persatuan yang berserakan, meneguhkan jalan kebenaran (cahaya tauhid), dan melangkah untuk kemajuan umat, bangsa dan negara (khittah perjuangan). Semata-mata hanya untuk menggapai ridho Allah subhanahu wa ta’alaa.

Kesadaran kader HMI bahwa dunia merupakan ladang pengabdian (abdi) kepada Allah menjadi bekal setiap gerak langkah individu maupun organisasi berorientasikan hanya kepada-Nya semata dalam berkehidupan.Kehidupan masyarakat selalu diwarnai peranan generasi muda, untuk itu generasi penerus haruslah dipersiapkan dengan matang agar mampu memberikan perubahan kearah yang lebih baik di masa yang akan datang. Sebagai organisasi mahasiswa (pasal 6 AD HMI) notabenenya juga sebagai pemuda, HMI bersifat responsif terhahap arus perubahan yang kian terus melesat dinamis dengan ditandai pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat-organisasi. Melalui proses perkaderan generasi pemuda (kader) digembleng-tempah, mengkontruksi-internalisasi fondasi tauhid yang kuat dan melekat dalam diri kadermenjadi tameng diri dalam menghadapi arus perubahan zaman tersebut.Hymne HMI, “turut al-qur’an dan hadist, jalan keselamatan…” bukan hanya sekadar dinyanyikan dalam acara-acara formal-nonformal, namun lebih dari itu yakni nafas kehidupan.

Anggaran dasar HMI, salah satunya melakukan usahanya untuk membina pribadi muslim agar mencapai akhlakul kharimah diinterpretasikan dengan membentuk suatu badan yang fokus dalam menjalankan pembinaan terhadap kader secara terorganisir, sistematis dan terukur sebagai bagian dari usaha untuk menopang pembangunan nasional. Orientasi perkaderan tidaklah hanya membentuk individu kader yang hanya berkualitas, namun juga bertauhid. Artinya dimanapun latar pengabdian mereka bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara aliran nafas HMI harus senantiasa mengalir memberikan pengaruh positif bagi kehidupan masyarakat kelak. Bukan menjadi bagian dari penghancur pilar-pilar kemajuan berbangsa dan bernegara demi memenuhi kebutuhan naluri nafsu syahwat belaka.Sisi lain, realitas masyarakat modernberkehidupan gelap-gulita, kebodohan dan hawa nafsu memperbudak manusia adalah bentuk penindasan yang harus kita lawan,itulah tugas amanah yang diemban oleh seorang kader HMIsebagai manusia (khalifah) dimuka bumi.

Atas dasar kesadaran itu, membina diri-kader haruslah kita perjuangkan dengan semangat kegigihan bagaikan kobaran api yang membara dalam dadanyaseorang mujtahid memperjuangkan kebenaran,Tujuan HMI yang tertuang dalam pasal 4 ADmerupakan tugas kemuliaan (pegabdian) untuk mewujudkan Generasi insan cahaya,yakni generasi yang berkualitasdengan fondasi tauhid yang kuatdan mampu menjadi simbol kemajuan untuk kemaslahatan,membangun keharmonisan umat, bangsa dan negara.

Pemahaman aplikatif  kader terdahap sumber nilai yang terkandung dalam al-qur’an dan hadits sebagai jalan keselamatan, bagaikan pakaian indah yang melekatpada diri kader. Aliran nafas islam senantiasa menghembuskan arus positif pada pola pikir, pola tindak, dan pola laku setiap kader dalam rangkapegabdian kepada Allah. Menjadikan sumber ilmu (al-qur’an dan hadits) sebagai kacamata dalam melihat realitas kehidupan melalui islam. Dengan demikian, kehadiran HMI menjadi harmoni ditengah kehidupan umat, berbangsa, dan bernegara memancarkan cahaya keindahan yang menerangi sisi gelap kehidupan dunia. Semoga Allah meridhoi segenap cita dan harapan. Bahagia HMI.


*Tulisan Tersebut Telah Dipublikasikan Oleh HistoriaHMI




Baca Selengkapnya ....

Generasi Milenial dan Upaya Merawat Persatuan Melalui Medsos

Posted by Efriyands Rabu, 26 Juni 2024 0 komentar

Generasi Milenial dan Upaya Merawat Persatuan Melalui Medsos

 Oleh Efriyandi

Komunitas Ruang Kosong, Pemerhati Sosial

Generasi milenial merupakan generasi pemuda di era globalisasi mereka hidup pada perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat. Sebagai kaum pemuda, generasi milenial merupakan asset bangsa yang sangat berharga dalam menjaga persatuan dalam perdamaian suatu bangsa. Mereka menjadi harapan dan tumpuan para generasi terdahulu dalam kemajuan untuk membangun peradaban yang lebih baik di masa yang akan datang.

Generasi milenial menjadi sangat sering di perbincangkan belakang ini, karena mereka yang disebut generasi y ini berbeda dengan yang sebelumnya. Generasi milineal, menurut Time Magazine merupakan generasi kelahiran 1980-2000 (Yoris Sebastian, 2016), berarti saat ini milenial berusia 17 hingga 37 tahun. Menurut Bappenas (2015) milenial di indonesia adalah 84 juta orang, sementara jumlah penduduk mencapai 255 juta penduduk. Artinya berdasarkan data tersebut 33% jumlah penduduk Indonesia adalah milenial.

Era globalisasi, kehadirannya menimbulkan berbagai dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat dunia khususnya indonesia. Salah satu dampaknya yaitu memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi di tengah masyarakat. Seperti, Media Sosial (medsos) yang merupakan produk yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Generasi milenial yang lahir di era digital, sangatlah akrab dengan smartphone dan media sosial yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Dalam laporan Tetra Pak Index (2017) mengungkap bahwa ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia dan ada lebih dari 106 juta orang Indonesia menggunakan media sosial tiap bulannya. Di mana 85% di antaranya mengakses sosial media melalui perangkat seluler. Dalam hal ini, Gabrielle Angriani mengungkapkan bahwa pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millennial dan generasi Z. Berdasarkan hasil riset Alvara Research Center (2016) bahwa generasi milenial Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 7 jam sehari untuk berselancar di sosial media dan internet. Ini menunjukkan rata-rata Konsumsi internet mereka sangat tinggi. Dibandingkan dengan generasi X yang mengakses internet rata-rata 3-4 jam sehari. 

Kehadiran medsos memang telah menjelma menjadi kekuatan luar biasa dalam hubungan antarsesama manusia. Dengan hadirnya medsos generasi ini tidak perlu betatap muka secara langsung dengan yang lain untuk berkomunikasi. Bahkan, kini telah hadir fitur video call pada hampir setiap jenis medsos. Pendek kata, medsos mampu menembus sekat – sekat batas geografis dari berbagai belahan dunia manapun asalkan ada jaringan sinya dan akses internet yang memadai. Medsos pun mempunyai potensi  super cepat dalam memproduksi dan desiminasi informasinya. Bahkan, hanya satu kali klik, secepat kilat informasi medsos mampu menjalar hingga ke seluruh belahan dunia ini.

Dengan keunggulan demikian generasi milenial yang akrab dengan medsos seharusnya menjadikan medsos sebagai peranan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini dalam bingkai perdamaian sekaligus menjaga dan merawatnya. Meskipun demikian, ibaratkan dua sisi koin logam medsos kadangkala dapat berpotensi sebagai perusak tatanan persatuan bangsa yang sudah lama berdiri, karena ulah seorang oknum tertentu dalam menyebarkan informasi negatif di media sosial.

Tumpah ruahnya informasi hoax atau berita bohong yang menyebar di medsos, bisa membuat pengguna medsos terprovokasi khususnya para generasi milenial. Belum lagi, hasutan, fitnah, adu domba dan ujaran kebencian sangat mengancam bagi keselamatan persatuan dan perdamaian yang sudah berdiri kokoh. Bahkan, konten – konten medsos seperti ini yang menyebabkan disharmini sosial di negeri ini.   

Oleh karena itu, sebagai pemuda (generasi milenial)  sudah saatnya menjadikan medsos sebagai sarana untuk menjalin rasa persatuan (persaudaraan) bukan malah merusaknya. Caranya ialah memanfaatkan medsos sebagai sarana untuk menjaga persatuan dan kesatuan di negeri ini, serta menggunakan medsos secara bijak. Konten-konten medsos yang berkaitan dengan berita hoax, ujaran kebencian dan adu domba haruslah dihindari. Sebagai generasi milenial yang aktif berselancar di media sosial dan internet harus bisa memilah serta memilih informasi yang benar.

Dalam penggunaan medsos, generasi milenial harus membuat dan menyebarkan konten-konten yang bermuatan nilai positif tanpa melanggar ketenuan agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan dan pemerintah juga perlu meningkatkan upaya mengedukasi generasi milenial untuk membangun literasi penggunaan medsos dan membangun kesadaran serta tanggung jawab dalam mewujudkan masyarakat madani.   

Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa medsos dapat berfungsi sebagai penguat persatuan manakala masyarakatnya bijak menggunakannya. Sebagai generasi milenial yang merupakan bagian dari masyarakat harus bisa menjadi kontrol dan filter informasi yang beredar. Bila ada oknum yang menebar konten/informasi berbahaya di medsos, harus segera dilaporkan. Pada akhirnya, perlu adanya sinergi antara pemerintah serta masyarakat dalam menjaga serta merawat persatuan dalam negeri ini.


*Tulisan tersebut telah dipublikasikan oleh Tribun Sumsel 






Baca Selengkapnya ....

MENGGAPAI MA’RIFATULLAH

Posted by Efriyands Minggu, 28 Mei 2017 0 komentar
MENGGAPAI MA’RIFATULLAH
Oleh: Efriyandi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang


Allah Maha Melindungi merupakan salah satu nama Allah yang baik atau yang biasa disebut asmaul husna. Allah menciptakan ketegangan kepada manusia sebenarnya  agar menemukan perlindungannya. Allah melindungi orang-orang yang beriman, dengan menerangi kegelapan menuju cahaya iman. Suatu hal perlindungan Allah yang paling nikmat adalah diberi keteguhan iman. Pertolongan Allah juga berupa menjauhkan orang beriman dari apa yang diinginkan, karena Allah mengetahui bahwa yang diinginkan itu adalah perbuatan yang dapat menjauhkan dari-Nya. Perlindungan yang diberikan Allah harus kita sikapi bahwa apapun yang terjadi itulah yang terbaik menurut Allah.
Sangatlah beruntung bagi orang-orang yang berhasil mengenal Allah. Nikmat mengenal Allah merupakan suatu kenikmatan yang didambakan dibandingkan kenikmatan yang lain. Bagi orang yang tidak mengenal Allah maka akan selalu meributkan masalah dunia hingga sampai-sampai mengorbankan kemuliaannya. Orang yang bersungguh-sungguh dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah juga akan mendekatkan kepadanya. Sebagaimana dijelaskan  didalam hadits Qudsi yang berbunyi, jika seorang hamba mendekat sdejengkal, maka Allah akan satu depak, jika kita sedepak, maka Allah satu hasta, kalau kita berjalan kearah Allah, maka Allah akan berlari-lari kecil.
Jadi semua memiliki peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah, syaratnya Adalah dengan bersungguh-sungguh kepada Allah. Sempurnakanlah sekecil apapun bentuk pengabdian kita kepada Allah, walaupun hanya bisa melakukan yang kecil tetapi kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Contohnya seperti shalat jagan telat harus tepat waktunya, menjaga kerapian ketika hendak melaksanakan sholat, mencari shaf paling depan ketika masuk masjid untuk melaksanakan ibadah sholat. Seperti para sahabat nabi mereka berebut shaf terdepan.
Marilah mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan suatu hal kebaikan yang kecil-kecil terlebih dahulu, hal besar yang baik adalah rangkaian dari beberapa hal-hal kecil yang baik. Maka jangan langsung mengharapkan yang besar, karena sekecil apapun maka tetap akan sempurna perhitungannya oleh Allah. Perbaikilah shalat dimulai dengan wudhu dengan sempurna, dari wudhu hingga menjelang shalat berdzikirlah, selalu mengingat Allah dan mintalah padanya agar diberikan nikmat shalat yang khusyuk. Dengan memakai wangi-wangian, bila perlu bersiwak terlebih dulu. Berusaha sempurnakan shalat kita, agar mendapat kenikmatan dalam shalat yang kita kerjakan. Ketika keluar dari masjid dengan berdesak-desakan dapat dijadikan sebagai lading amal dengan mendahulukan orang yang lebih tua dari kita, ketika telah kehilangan sandal cepat beristigfar dan selalu berbaik sangkalah, jangan malah berburuk sangka atau malah menfitnah orang lain yang belum tentu benar akan dugaan itu.

Semua kejadian baik yang sudah terjadi dan yang belum terjadi telah Allah atur dengan perhitungan Allah yang Maha Sempurna. Ketika suatu saat kita kelebihan membayar uang ongkos bus, lebih baik kita ikhlaskan, jangan sampai hati kita menjadi dongkol. Harus ikhtiar dengan menyempurnakan setiap kejadian yang terjadi, celaka atau tidak itu merupakan urusan Allah. Setiap langkah kaki kita melangkah jadikanlah amal untuk bekal di kehidupan yang abadi kelak. Berdzikirlah supaya engkau beruntung. Jangan sempai hati ini penuh kebencian. Setiap kita punya musuh, kotorlah hati kita. Biarkan saja uang berkurang tapi hati tidak miskin.

Baca Selengkapnya ....

Berpikir dan Berorientasi Kepada Allah

Posted by Efriyands 0 komentar
“Berpikir dan Berorientasi Kepada Allah”
Oleh Efriyandi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang


            Salah satu hal yang membuat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna adalah dibekali oleh Allah swt  berupa akal dalam dirinya. Akal membuat manusia berbeda dan menjadi unggul daripada makhluk  ciptaan Allah lainnya. Akal bertugas mengatur pikiran, persepsi, memori, emosi, keinginan, imajinasi, serta segala aktivitas bawah sadar. Dengan akal manusia mampu berpikir dan mengelola pikiran-pikirannya.
            Pikiran bisa berarti gagasan dan juga merupakan kekuatan manusia, dengan pikiran manusia bisa menimbang, memutuskan, mengingat, serta mencipta. Pikiran juga bisa berarti potensi, yaitu mampu mendorong pemiliknya untuk berbuat dengan cara mendaya gunakan apa yang dimilikinya untuk memperoleh suatu yang diyakininya. Pikiran sangatlah memiliki pengaruh yang besar bagi manusia, dengan pikiran  manusia dapat mengerakkan dirinya untuk melakukan, bertindak, berbuat seperti apa yang telah diyakininya.   
            Pikiran berawal dari sebuah informasi yang melahirkan ide atau gagasan. Beragam informasi dari apa yang kita lihat, dengar, dan apa yang dibaca kemudian diperhatikan dan dipikirkan. Pikiran yang digunakan secara berulang-ulang baik yang positif maupun negative akan terekam atau disimpan dalam memori manusia yang melahirkan suatu keyakinan, pemahaman, persepsi, pendapat atau mindset. Dalam aktifitas sehari-hari mindset-mindset yang telah terbentuk oleh pikiran akan terlihat melalui cara atau perbuatan seseorang dalam melakukan sesuatu.  Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati dengan apa yang kita dengar, kita lihat, dan juga apa yang kita baca, akan dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan kita.
Dalam hal ini, perbuatan atau tindakan yang sering dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan merupakan pikiran yang diciptakan seorang dalam benaknya, kemudian dilakukan secara berulang kali sehingga akal meyakininya sebagai bagian dari perilakunya. Seorang pilosof yunani, Plato mengatakan bahwa, “sumber setiap perilaku adalah pikiran. Dengan pikiran kita bisa maju atau mundur. Dengan pikiran kita bisa bahagia atau sengsara”. Apabila kita berpikir akan gagal atas tujuan yang ingin dicapai kemungkinan kegagalan akan menghantui dalam setiap tindakan yang  dilakukan sehingga kegagalan akan menghampiri kita dan juga sebaliknya, jika kita berpikir optimis untuk sukses dengan usaha yang semaksimal mungkin, kemungkinan kita akan mendapatkan seperti apa yang telah diyakini.
Allah swt berfirman dalam surah Ar-Ra’d 11 “innallaha laa yughaiiyiru maa biqoumin hatta yughoiiyiruu maa bianfusihim”, artinya Allah tidak pernah mengubah keadaannya seseorang hambanya hingga ia mengubah keadaannya sendiri. Berdasarkan ayat diatas, untuk mengubah keadaan agar menjadi lebih baik yaitu dengan adanya proses yang harus dilakukan, setiap proses yang yang dilakukan tentunya harus dengan berpikir yang jernih dalam segala hal dan juga orietasikan setiap pikiran kita hanya kepada Allah swt semata, agar perbuatan yang kita lakukan dapat bernilai pahala dari Allah swt.
Untuk mencapai suatu tujuan yang ingin kita gapai (keadaan yang baik) tentu adanya usaha yang maksimal, bukan hanya berdo’a mengangkat kedua tangan agar harapan itu diijabah oleh Allah swt. Pikiran kita haruslah diprogram agar selalu berorientasi kepada Allah swt, sebab apabila pikiran kita sudah selalu berorientasi kepada Allah swt, maka kita akan selalu merasa telah diawasi oleh Allah swt, sehingga takut akan berbuat perbuatan dosa dan juga agar kita melakukan kebaikan-kebaikan serta mengamalkan nilai-nilai islami.

Yakinlah bahwa Allah tidak pernah menzholimi setiap hambanya, dan yakinlah kepada Allah bahwa setiap usaha yang dilakukan atas dasar pikiran yang positif akan membuahkan hasil. Aamiin ya rabb.

Baca Selengkapnya ....

Manajemen Waktu Dalam Islam

Posted by Efriyands 0 komentar
Manajemen Waktu Dalam Islam
Oleh: Efriyandi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Berlangsungnya perjalanan waktu saat ini menuju masa depan atau masa yang akan datang dapat di ilustrasikan dengan bagaikan mengambil barang yang berserakan didalam sebuah kegelapan, yang banyak mengambil barang yang bagus maka akan beruntung, sedangkan yang mengambil barang jelek atau bahkan tidak mengambil sama sekali maka pastilah akan menyesal di kemudian waktu. Dunia adalah suatu kegelapan tersebut, yang pada waktunya kelak akan menjadi terang benderang di akhirat setelah terjadinya proses kematian, bagi orang yang banyak mengambil barang yang bagus atau orang yang menjalankan segala perintah Allah SWT.
Bagi mereka yang mengambil sedikit kelak akan menyesal karena semestinya harus bisa mengambil lebih banyak dari yang didapatkan, sedangkan yang mengambil sedikit akan menyesalinya karena hanya sedikit sekali, dan bagi mereka yang tidak mengambil sama sekali akan lebih menyesal karena tidak membawa bekal apapun di akhirat kelak. Barang barang yang berserakan didalam sebuah kegelapan itu diumpamakan suatu perbuatan amal kebaikan.
Sungguh, segala amal perbuatan selama hidup di dunia akan membawa berupa penyesalan di akhirat kelak, kebaikan yang telah dilakukan selama di dunia  kelak akan menjadi modal ampuh sebagai bekal untuk kehidupan yang abadi di akhirat kelak.    Will Duran pernah mengatakan bahwa seandainya tidak ada kematian dan kehidupan di alam baka mungkin tidak ada agama. Agama adalah yang mengatur cara hidup untuk menuju ke dalam kehidupan yang abadi.
Waktu merupakan rangkaian peristiwa yang kita alami atau batas awal dan akhir sebuah persitiwa. Ada sebuah pribahasa yang “Al-waktu kash-shaif ” yang artinya waktu adalah pedang, barangsiapa yang tidak mampu mengelola waktu maka waktu akan menebasnya. Waktu merupakan ukuran berharga dalam setiap kegiatan dan kehidupan. Janganlah kita menyia-siakan waktu sehingga kelak akan menyesal di kemudian hari, sebagaimana yang di katakan oleh Benyamin Franklin “jika mencintai kehidupan maka janganlah memboroskan waktu, sebab waktu adalah kehidupan”. Hidup akan mempunyai makna bukan hanya sekedar melihat posisi dalam hubungannya dengan lingkungan dan gambaran masa depan. Tetapi menempatkan pengertian yang paling fundamental bahwa hidup merupakan perjalan waktu menuju kematian. Sehingga, waktu menjadi pendorong untuk mengisi makna hidupnya. Pada hakikatnya, umur kita merupakan jumlah dari waktu yang dipergunakan. Pada akhirnya, kita akan berjumpa dengan batas dari perjalan waktu  yaitu kematian. Dengan kata lain, makna hidup bukanlah berapa lama kita hidup tetapi berapa efektif kita memanfaatkan waktu.
Waktu yang kita lewati tidak akan pernah terasa, kita tentu merasakan bersama bahwa sepertinya baru saja kemarin kita berada di hari jum’at, sekarang sudah masuk hari jum’at, waktu berlalu begitu cepat, begitu singkat. Al-qur’an memerintahkan manusia untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, bahkan diturunkannya umat manusia untuk mengisi seluruh waktu dengan berbagai amal kebaikan dengan mempergunakan semua daya yang dimiliki. Sebab nantinya apa yabg telah kita lakukan akan di mintai pertanggung jawaban oleh Allah swt, sebagimana hadits nabi, dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Muhammad, beliau bersabda: “tidak akan bergerak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sampai dia ditanya lima pertanyaan: Tentang umurnya ke mana dia habiskan, tentang masa mudanya di mana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia belanjakan, dan apa yang sudah di amalkan dari ilmunya”(HR. at-Tirmidzi).
Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya tidak selalu demi kepentingan diri sendiri, namun memberikan kemanfaatan pada orang lain juga merupakan kebaikan. Tidaklah berharga kehidupan kita jika kita hidup hanya mencari sesuatu untuk diri sendiri, belajar, bekerja, beribadah, bersenang-senang, tua kemudian mati tanpa ada kepedulian terhadap sesama. Jika ingin menjadi orang yang benar-benar hidup, gunakanlah hidup ini untuk memberikan manfaat kepada orang lain dalam hal kebaiakan, untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada allah. Hidup akan lebih bermakna bila kita dapat mengambil peran sebagai orang yang bermanfaat bagi orang lain dan berhubungan dengan sang pencipta.  Maka, waktu yang dipergunakan benar-benar bermanfaat dan penuh dengan keberkahan.
Bagi orang-orang yang cerdas, waktu benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya, misalnya, digunakan untuk mencari ilmu yang bermanfaat, membaca, mengarang, membuat keterampilan, mengkaji, berbuat sesuatu demi kemaslahatan semua orang, nabi pernah bersabda, “manusia yang baik adalah manusia yang paling berguna atau yang paling bermanfaat bagi orang lain”, dan digunakan untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah swt.
Dalam kehidupan ada tiga hal yang tidak akan pernah kembali: pertama, kata yang telah kita ucapkan, kedua, waktu yang telah berlalu, ketiga, kesempatan yang diabaikan. Waktu hari ini tidak akan pernah bisa terulang kembali pada esok hari, begitu juga hari yang pernah dilewati kemarin. Maka jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus jauh lebik baik dari hari ini. Siapapun yang menginginkan keberuntungan hidup dunia juga akhirat, maka janganlah sekali-kali menyia-nyiakan waktu karena penyesalan dunia dan akhirat akan kita dapati. Marilah kita memanfaatkan waktu hidup yang sangat singkat ini dengan sebaik-baiknya dan kerjakanlah sesuatu yang dapat kita tinggalkan bagi generasi selanjutnya dan isilah waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.

Baca Selengkapnya ....
Trik SEO Terbaru support Online Shop Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of efriyand's blogs.