Manajemen Waktu Dalam Islam
Minggu, 28 Mei 2017
0
komentar
Manajemen
Waktu Dalam Islam
Oleh: Efriyandi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri
Raden Fatah Palembang
Berlangsungnya perjalanan
waktu saat ini menuju masa depan atau masa yang akan datang dapat di
ilustrasikan dengan bagaikan mengambil barang yang berserakan didalam sebuah
kegelapan, yang banyak mengambil barang yang bagus maka akan beruntung,
sedangkan yang mengambil barang jelek atau bahkan tidak mengambil sama sekali
maka pastilah akan menyesal di kemudian waktu. Dunia adalah suatu kegelapan
tersebut, yang pada waktunya kelak akan menjadi terang benderang di akhirat
setelah terjadinya proses kematian, bagi orang yang banyak mengambil barang
yang bagus atau orang yang menjalankan segala perintah Allah SWT.
Bagi mereka yang mengambil
sedikit kelak akan menyesal karena semestinya harus bisa mengambil lebih banyak
dari yang didapatkan, sedangkan yang mengambil sedikit akan menyesalinya karena
hanya sedikit sekali, dan bagi mereka yang tidak mengambil sama sekali akan
lebih menyesal karena tidak membawa bekal apapun di akhirat kelak. Barang
barang yang berserakan didalam sebuah kegelapan itu diumpamakan suatu perbuatan
amal kebaikan.
Sungguh, segala amal
perbuatan selama hidup di dunia akan membawa berupa penyesalan di akhirat
kelak, kebaikan yang telah dilakukan selama di dunia kelak akan menjadi modal ampuh sebagai bekal
untuk kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Will
Duran pernah mengatakan bahwa seandainya tidak ada kematian dan kehidupan di
alam baka mungkin tidak ada agama. Agama adalah yang mengatur cara hidup untuk
menuju ke dalam kehidupan yang abadi.
Waktu merupakan rangkaian
peristiwa yang kita alami atau batas awal dan akhir sebuah persitiwa. Ada sebuah
pribahasa yang “Al-waktu kash-shaif ” yang artinya waktu adalah pedang, barangsiapa
yang tidak mampu mengelola waktu maka waktu akan menebasnya. Waktu merupakan
ukuran berharga dalam setiap kegiatan dan kehidupan. Janganlah kita
menyia-siakan waktu sehingga kelak akan menyesal di kemudian hari, sebagaimana
yang di katakan oleh Benyamin Franklin “jika mencintai kehidupan maka janganlah
memboroskan waktu, sebab waktu adalah kehidupan”. Hidup akan mempunyai makna
bukan hanya sekedar melihat posisi dalam hubungannya dengan lingkungan dan
gambaran masa depan. Tetapi menempatkan pengertian yang paling fundamental
bahwa hidup merupakan perjalan waktu menuju kematian. Sehingga, waktu menjadi
pendorong untuk mengisi makna hidupnya. Pada hakikatnya, umur kita merupakan
jumlah dari waktu yang dipergunakan. Pada akhirnya, kita akan berjumpa dengan
batas dari perjalan waktu yaitu
kematian. Dengan kata lain, makna hidup bukanlah berapa lama kita hidup tetapi
berapa efektif kita memanfaatkan waktu.
Waktu yang kita lewati
tidak akan pernah terasa, kita tentu merasakan bersama bahwa sepertinya baru
saja kemarin kita berada di hari jum’at, sekarang sudah masuk hari jum’at,
waktu berlalu begitu cepat, begitu singkat. Al-qur’an memerintahkan manusia
untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, bahkan diturunkannya umat manusia
untuk mengisi seluruh waktu dengan berbagai amal kebaikan dengan mempergunakan
semua daya yang dimiliki. Sebab nantinya apa yabg telah kita lakukan akan di
mintai pertanggung jawaban oleh Allah swt, sebagimana hadits nabi, dari Ibnu
Mas’ud dari Nabi Muhammad, beliau bersabda: “tidak akan bergerak kaki anak
Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sampai dia ditanya lima pertanyaan:
Tentang umurnya ke mana dia habiskan, tentang masa mudanya di mana dia
usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia
belanjakan, dan apa yang sudah di amalkan dari ilmunya”(HR. at-Tirmidzi).
Manfaatkan waktu dengan
sebaik-baiknya tidak selalu demi kepentingan diri sendiri, namun memberikan
kemanfaatan pada orang lain juga merupakan kebaikan. Tidaklah berharga
kehidupan kita jika kita hidup hanya mencari sesuatu untuk diri sendiri,
belajar, bekerja, beribadah, bersenang-senang, tua kemudian mati tanpa ada
kepedulian terhadap sesama. Jika ingin menjadi orang yang benar-benar hidup,
gunakanlah hidup ini untuk memberikan manfaat kepada orang lain dalam hal
kebaiakan, untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada allah. Hidup akan lebih
bermakna bila kita dapat mengambil peran sebagai orang yang bermanfaat bagi
orang lain dan berhubungan dengan sang pencipta. Maka, waktu yang dipergunakan benar-benar
bermanfaat dan penuh dengan keberkahan.
Bagi orang-orang yang cerdas,
waktu benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya, misalnya, digunakan untuk
mencari ilmu yang bermanfaat, membaca, mengarang, membuat keterampilan,
mengkaji, berbuat sesuatu demi kemaslahatan semua orang, nabi pernah bersabda,
“manusia yang baik adalah manusia yang paling berguna atau yang paling
bermanfaat bagi orang lain”, dan digunakan untuk beribadah, mendekatkan
diri kepada Allah swt.
Dalam
kehidupan ada tiga hal yang tidak akan pernah kembali: pertama, kata
yang telah kita ucapkan, kedua, waktu yang telah berlalu, ketiga,
kesempatan yang diabaikan. Waktu hari ini tidak akan pernah bisa terulang
kembali pada esok hari, begitu juga hari yang pernah dilewati kemarin. Maka
jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus jauh
lebik baik dari hari ini. Siapapun yang menginginkan keberuntungan hidup dunia
juga akhirat, maka janganlah sekali-kali menyia-nyiakan waktu karena penyesalan
dunia dan akhirat akan kita dapati. Marilah kita memanfaatkan waktu hidup yang
sangat singkat ini dengan sebaik-baiknya dan kerjakanlah sesuatu yang dapat
kita tinggalkan bagi generasi selanjutnya dan isilah waktu dengan hal-hal yang
bermanfaat.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Manajemen Waktu Dalam Islam
Ditulis oleh Efriyands
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://eefyu-myblog.blogspot.com/2017/05/manajemen-waktu-dalam-islam.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Efriyands
Rating Blog 5 dari 5

0 komentar:
Posting Komentar