Milad HMI Ke-75; “Harmoni Umat, Untuk Kemajuan Bangsa”
Oleh Efriyandi
Pengurus Badko HMI Sumbagsel 2021-2023, Founder Ruang Kosong.
Langkah
perjuangan Lafran Pane mendirikan perkumpulan untuk menampung aspirasi umat
islam khususnya kalangan mahasiswa di perguruan tinggi saat itutidaklahseperti
membalikkan telapak tangan, penuh lika-liku dinamika sosial-politik-budaya yang
dilewatinya, organisasi
itu bernama Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat HMI (Pasal 1 AD HMI) pada
tanggal 5 februari 1947, dengan berasaskan
islam (pasal 3 AD HMI). Sejak
awal pediriannya, HMI meletakkan dasar perjuangannya yang dikenal dengan 2
(dua) komitment asasi yakni: komitment keindonesiaan dan komitment keislaman. Para kader HMI mengesampingkan tugas kuliah berkorban keringat
darah ikut serta berjuang mempertahankan keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia
dari kolonialisme dan mempertinggi derajat bangsa dimata dunia. Serta berupaya
menjadi vaksin penghancur virus komunisme, islam konservatif yang mewabah khususnya
dikalangan mahasiswa islam, virus berbahayayang bertentangan dengan nilai-nilai
ajaran islam.
Tokoh
pemrakasa berdirinya HMI, Lafran Pane melalui suatu wadah organisasi yang
dibentuknya bersama beberapa teman kampusnya sampai hari ini telah melahirkan
ribuan kader/alumni yang berkiprah dengan latar belakang pengabdiannya
masing-masing telah menjadi tokoh pemimpin untuk kemajuan umat, bangsa dan
negara. Tentu mereka telah melewati rangkaian proses perkaderan dan berhadapan
dengan berbagai problematika kehidupan organisasi dimasanya. Sebut saja Ridwan
Saidi yang akrab dikenal babe (budayawan), Nurcholis Madjid (cendikiawan), Sakib
Mahmud (cendikiawan), Akbar Tandjung (politisi), Jusuf Kalla (pengusaha dan
politisi), Munir (pejuang HAM), Dr.
Sulastomo (penegak pers), Jimly Ashidiqie (penegak konstitusi), dan tokoh
lainnya.
Sebagai
organisasi kader (pasal 9 AD HMI), HMI berfungsi sebagai kawah candradimuka
dalam membentuk generasi insan cita melalui proses perkaderan sebagai wadah
pengemblengan individu-kader untuk menjadi pribadi berkualitas-bertauhid agar
terwujudnya masyarakat cita sebagai harapannya. Kesadaran HMI bahwa perkaderan
merupakan elan vital bagi kemajuan suatu peradaban di masa yang akan
datang, sertaperkaderan yang berkualitas akan melahirkan output kader yang
berkualitas pula agar melahirkan penerus estafet perjuangan cita-cita umat-bangsa.
Adalah suatu kemustahilan akan terwujudnya transformasi masyarakat cita, tanpa
melalui proses menempah diri secara sadar sebagai seorang kader umat dan bangsa
untuk mencapai insan yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang di-ridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Idealisme
masyarakat cita yang akan diwujudkan haruslah berimbang dengan iringan semangat
api perjuangan yang membara tak pernah redup dalam mewujudkannya, sebagaimana
kegigihan para pendahulu dalam melewati segala terpaan badai rintang dalam
melangkah. Apalah artinya perjuangan tanpa arah serta teguh berdiri tegak
dijalan kebenaran, adalah kemunduran atau bahkan kehancuran yang membawa
malapetaka ujungnya tanpa keberpihakan kepada kaum tertindas (mustadh’afin)
dan menghancurkan segala bentuk penindasan (mustakfirin). Oleh karena
itu, melalui momentum milad HMI yang ke 75 tahun pada 5 februari 2022 ini kita
berupaya untuk merekonstruksi kembali persatuan yang berserakan, meneguhkan
jalan kebenaran (cahaya tauhid), dan melangkah untuk kemajuan umat, bangsa dan
negara (khittah perjuangan). Semata-mata hanya untuk menggapai ridho Allah subhanahu
wa ta’alaa.
Kesadaran kader HMI bahwa dunia merupakan ladang pengabdian (abdi)
kepada Allah menjadi bekal setiap gerak langkah individu maupun organisasi
berorientasikan hanya kepada-Nya semata dalam berkehidupan.Kehidupan masyarakat
selalu diwarnai peranan generasi muda, untuk itu generasi penerus haruslah
dipersiapkan dengan matang agar mampu memberikan perubahan kearah yang lebih
baik di masa yang akan datang. Sebagai organisasi mahasiswa (pasal 6 AD HMI)
notabenenya juga sebagai pemuda, HMI bersifat responsif terhahap arus perubahan
yang kian terus melesat dinamis dengan ditandai pesatnya perkembangan teknologi
dan ilmu pengetahuan yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan
masyarakat-organisasi. Melalui proses perkaderan generasi pemuda (kader) digembleng-tempah,
mengkontruksi-internalisasi fondasi tauhid yang kuat dan melekat dalam diri
kadermenjadi tameng diri dalam menghadapi arus perubahan zaman tersebut.Hymne
HMI, “turut al-qur’an dan hadist, jalan keselamatan…” bukan hanya
sekadar dinyanyikan dalam acara-acara formal-nonformal, namun lebih dari itu
yakni nafas kehidupan.
Anggaran dasar HMI, salah satunya melakukan usahanya untuk
membina pribadi muslim agar mencapai akhlakul kharimah diinterpretasikan
dengan membentuk suatu badan yang fokus dalam menjalankan pembinaan terhadap
kader secara terorganisir, sistematis dan terukur sebagai bagian dari usaha
untuk menopang pembangunan nasional. Orientasi perkaderan tidaklah hanya
membentuk individu kader yang hanya berkualitas, namun juga bertauhid. Artinya
dimanapun latar pengabdian mereka bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
aliran nafas HMI harus senantiasa mengalir memberikan pengaruh positif bagi
kehidupan masyarakat kelak. Bukan menjadi bagian dari penghancur pilar-pilar
kemajuan berbangsa dan bernegara demi memenuhi kebutuhan naluri nafsu syahwat
belaka.Sisi lain, realitas masyarakat modernberkehidupan gelap-gulita, kebodohan
dan hawa nafsu memperbudak manusia adalah bentuk penindasan yang harus kita
lawan,itulah tugas amanah yang diemban oleh seorang kader HMIsebagai manusia (khalifah)
dimuka bumi.
Atas dasar kesadaran itu, membina diri-kader haruslah kita
perjuangkan dengan semangat kegigihan bagaikan kobaran api yang membara dalam dadanyaseorang
mujtahid memperjuangkan kebenaran,Tujuan HMI yang tertuang dalam pasal 4 ADmerupakan
tugas kemuliaan (pegabdian) untuk mewujudkan Generasi insan cahaya,yakni
generasi yang berkualitasdengan fondasi tauhid yang kuatdan mampu menjadi
simbol kemajuan untuk kemaslahatan,membangun keharmonisan umat, bangsa dan
negara.
Pemahaman aplikatif kader terdahap sumber nilai yang terkandung
dalam al-qur’an dan hadits sebagai jalan keselamatan, bagaikan pakaian indah
yang melekatpada diri kader. Aliran nafas islam senantiasa menghembuskan arus
positif pada pola pikir, pola tindak, dan pola laku setiap kader dalam
rangkapegabdian kepada Allah. Menjadikan sumber ilmu (al-qur’an dan hadits)
sebagai kacamata dalam melihat realitas kehidupan melalui islam. Dengan
demikian, kehadiran HMI menjadi harmoni ditengah kehidupan umat, berbangsa, dan
bernegara memancarkan cahaya keindahan yang menerangi sisi gelap kehidupan
dunia. Semoga Allah meridhoi segenap cita dan harapan. Bahagia HMI.
*Tulisan Tersebut Telah Dipublikasikan Oleh HistoriaHMI
Ditulis oleh Efriyands
Rating Blog 5 dari 5


0 komentar:
Posting Komentar