MENGGAPAI MA’RIFATULLAH

Posted by Efriyands Minggu, 28 Mei 2017 0 komentar
MENGGAPAI MA’RIFATULLAH
Oleh: Efriyandi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang


Allah Maha Melindungi merupakan salah satu nama Allah yang baik atau yang biasa disebut asmaul husna. Allah menciptakan ketegangan kepada manusia sebenarnya  agar menemukan perlindungannya. Allah melindungi orang-orang yang beriman, dengan menerangi kegelapan menuju cahaya iman. Suatu hal perlindungan Allah yang paling nikmat adalah diberi keteguhan iman. Pertolongan Allah juga berupa menjauhkan orang beriman dari apa yang diinginkan, karena Allah mengetahui bahwa yang diinginkan itu adalah perbuatan yang dapat menjauhkan dari-Nya. Perlindungan yang diberikan Allah harus kita sikapi bahwa apapun yang terjadi itulah yang terbaik menurut Allah.
Sangatlah beruntung bagi orang-orang yang berhasil mengenal Allah. Nikmat mengenal Allah merupakan suatu kenikmatan yang didambakan dibandingkan kenikmatan yang lain. Bagi orang yang tidak mengenal Allah maka akan selalu meributkan masalah dunia hingga sampai-sampai mengorbankan kemuliaannya. Orang yang bersungguh-sungguh dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah juga akan mendekatkan kepadanya. Sebagaimana dijelaskan  didalam hadits Qudsi yang berbunyi, jika seorang hamba mendekat sdejengkal, maka Allah akan satu depak, jika kita sedepak, maka Allah satu hasta, kalau kita berjalan kearah Allah, maka Allah akan berlari-lari kecil.
Jadi semua memiliki peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah, syaratnya Adalah dengan bersungguh-sungguh kepada Allah. Sempurnakanlah sekecil apapun bentuk pengabdian kita kepada Allah, walaupun hanya bisa melakukan yang kecil tetapi kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Contohnya seperti shalat jagan telat harus tepat waktunya, menjaga kerapian ketika hendak melaksanakan sholat, mencari shaf paling depan ketika masuk masjid untuk melaksanakan ibadah sholat. Seperti para sahabat nabi mereka berebut shaf terdepan.
Marilah mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan suatu hal kebaikan yang kecil-kecil terlebih dahulu, hal besar yang baik adalah rangkaian dari beberapa hal-hal kecil yang baik. Maka jangan langsung mengharapkan yang besar, karena sekecil apapun maka tetap akan sempurna perhitungannya oleh Allah. Perbaikilah shalat dimulai dengan wudhu dengan sempurna, dari wudhu hingga menjelang shalat berdzikirlah, selalu mengingat Allah dan mintalah padanya agar diberikan nikmat shalat yang khusyuk. Dengan memakai wangi-wangian, bila perlu bersiwak terlebih dulu. Berusaha sempurnakan shalat kita, agar mendapat kenikmatan dalam shalat yang kita kerjakan. Ketika keluar dari masjid dengan berdesak-desakan dapat dijadikan sebagai lading amal dengan mendahulukan orang yang lebih tua dari kita, ketika telah kehilangan sandal cepat beristigfar dan selalu berbaik sangkalah, jangan malah berburuk sangka atau malah menfitnah orang lain yang belum tentu benar akan dugaan itu.

Semua kejadian baik yang sudah terjadi dan yang belum terjadi telah Allah atur dengan perhitungan Allah yang Maha Sempurna. Ketika suatu saat kita kelebihan membayar uang ongkos bus, lebih baik kita ikhlaskan, jangan sampai hati kita menjadi dongkol. Harus ikhtiar dengan menyempurnakan setiap kejadian yang terjadi, celaka atau tidak itu merupakan urusan Allah. Setiap langkah kaki kita melangkah jadikanlah amal untuk bekal di kehidupan yang abadi kelak. Berdzikirlah supaya engkau beruntung. Jangan sempai hati ini penuh kebencian. Setiap kita punya musuh, kotorlah hati kita. Biarkan saja uang berkurang tapi hati tidak miskin.

Baca Selengkapnya ....

Berpikir dan Berorientasi Kepada Allah

Posted by Efriyands 0 komentar
“Berpikir dan Berorientasi Kepada Allah”
Oleh Efriyandi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang


            Salah satu hal yang membuat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna adalah dibekali oleh Allah swt  berupa akal dalam dirinya. Akal membuat manusia berbeda dan menjadi unggul daripada makhluk  ciptaan Allah lainnya. Akal bertugas mengatur pikiran, persepsi, memori, emosi, keinginan, imajinasi, serta segala aktivitas bawah sadar. Dengan akal manusia mampu berpikir dan mengelola pikiran-pikirannya.
            Pikiran bisa berarti gagasan dan juga merupakan kekuatan manusia, dengan pikiran manusia bisa menimbang, memutuskan, mengingat, serta mencipta. Pikiran juga bisa berarti potensi, yaitu mampu mendorong pemiliknya untuk berbuat dengan cara mendaya gunakan apa yang dimilikinya untuk memperoleh suatu yang diyakininya. Pikiran sangatlah memiliki pengaruh yang besar bagi manusia, dengan pikiran  manusia dapat mengerakkan dirinya untuk melakukan, bertindak, berbuat seperti apa yang telah diyakininya.   
            Pikiran berawal dari sebuah informasi yang melahirkan ide atau gagasan. Beragam informasi dari apa yang kita lihat, dengar, dan apa yang dibaca kemudian diperhatikan dan dipikirkan. Pikiran yang digunakan secara berulang-ulang baik yang positif maupun negative akan terekam atau disimpan dalam memori manusia yang melahirkan suatu keyakinan, pemahaman, persepsi, pendapat atau mindset. Dalam aktifitas sehari-hari mindset-mindset yang telah terbentuk oleh pikiran akan terlihat melalui cara atau perbuatan seseorang dalam melakukan sesuatu.  Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati dengan apa yang kita dengar, kita lihat, dan juga apa yang kita baca, akan dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan kita.
Dalam hal ini, perbuatan atau tindakan yang sering dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan merupakan pikiran yang diciptakan seorang dalam benaknya, kemudian dilakukan secara berulang kali sehingga akal meyakininya sebagai bagian dari perilakunya. Seorang pilosof yunani, Plato mengatakan bahwa, “sumber setiap perilaku adalah pikiran. Dengan pikiran kita bisa maju atau mundur. Dengan pikiran kita bisa bahagia atau sengsara”. Apabila kita berpikir akan gagal atas tujuan yang ingin dicapai kemungkinan kegagalan akan menghantui dalam setiap tindakan yang  dilakukan sehingga kegagalan akan menghampiri kita dan juga sebaliknya, jika kita berpikir optimis untuk sukses dengan usaha yang semaksimal mungkin, kemungkinan kita akan mendapatkan seperti apa yang telah diyakini.
Allah swt berfirman dalam surah Ar-Ra’d 11 “innallaha laa yughaiiyiru maa biqoumin hatta yughoiiyiruu maa bianfusihim”, artinya Allah tidak pernah mengubah keadaannya seseorang hambanya hingga ia mengubah keadaannya sendiri. Berdasarkan ayat diatas, untuk mengubah keadaan agar menjadi lebih baik yaitu dengan adanya proses yang harus dilakukan, setiap proses yang yang dilakukan tentunya harus dengan berpikir yang jernih dalam segala hal dan juga orietasikan setiap pikiran kita hanya kepada Allah swt semata, agar perbuatan yang kita lakukan dapat bernilai pahala dari Allah swt.
Untuk mencapai suatu tujuan yang ingin kita gapai (keadaan yang baik) tentu adanya usaha yang maksimal, bukan hanya berdo’a mengangkat kedua tangan agar harapan itu diijabah oleh Allah swt. Pikiran kita haruslah diprogram agar selalu berorientasi kepada Allah swt, sebab apabila pikiran kita sudah selalu berorientasi kepada Allah swt, maka kita akan selalu merasa telah diawasi oleh Allah swt, sehingga takut akan berbuat perbuatan dosa dan juga agar kita melakukan kebaikan-kebaikan serta mengamalkan nilai-nilai islami.

Yakinlah bahwa Allah tidak pernah menzholimi setiap hambanya, dan yakinlah kepada Allah bahwa setiap usaha yang dilakukan atas dasar pikiran yang positif akan membuahkan hasil. Aamiin ya rabb.

Baca Selengkapnya ....

Manajemen Waktu Dalam Islam

Posted by Efriyands 0 komentar
Manajemen Waktu Dalam Islam
Oleh: Efriyandi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Berlangsungnya perjalanan waktu saat ini menuju masa depan atau masa yang akan datang dapat di ilustrasikan dengan bagaikan mengambil barang yang berserakan didalam sebuah kegelapan, yang banyak mengambil barang yang bagus maka akan beruntung, sedangkan yang mengambil barang jelek atau bahkan tidak mengambil sama sekali maka pastilah akan menyesal di kemudian waktu. Dunia adalah suatu kegelapan tersebut, yang pada waktunya kelak akan menjadi terang benderang di akhirat setelah terjadinya proses kematian, bagi orang yang banyak mengambil barang yang bagus atau orang yang menjalankan segala perintah Allah SWT.
Bagi mereka yang mengambil sedikit kelak akan menyesal karena semestinya harus bisa mengambil lebih banyak dari yang didapatkan, sedangkan yang mengambil sedikit akan menyesalinya karena hanya sedikit sekali, dan bagi mereka yang tidak mengambil sama sekali akan lebih menyesal karena tidak membawa bekal apapun di akhirat kelak. Barang barang yang berserakan didalam sebuah kegelapan itu diumpamakan suatu perbuatan amal kebaikan.
Sungguh, segala amal perbuatan selama hidup di dunia akan membawa berupa penyesalan di akhirat kelak, kebaikan yang telah dilakukan selama di dunia  kelak akan menjadi modal ampuh sebagai bekal untuk kehidupan yang abadi di akhirat kelak.    Will Duran pernah mengatakan bahwa seandainya tidak ada kematian dan kehidupan di alam baka mungkin tidak ada agama. Agama adalah yang mengatur cara hidup untuk menuju ke dalam kehidupan yang abadi.
Waktu merupakan rangkaian peristiwa yang kita alami atau batas awal dan akhir sebuah persitiwa. Ada sebuah pribahasa yang “Al-waktu kash-shaif ” yang artinya waktu adalah pedang, barangsiapa yang tidak mampu mengelola waktu maka waktu akan menebasnya. Waktu merupakan ukuran berharga dalam setiap kegiatan dan kehidupan. Janganlah kita menyia-siakan waktu sehingga kelak akan menyesal di kemudian hari, sebagaimana yang di katakan oleh Benyamin Franklin “jika mencintai kehidupan maka janganlah memboroskan waktu, sebab waktu adalah kehidupan”. Hidup akan mempunyai makna bukan hanya sekedar melihat posisi dalam hubungannya dengan lingkungan dan gambaran masa depan. Tetapi menempatkan pengertian yang paling fundamental bahwa hidup merupakan perjalan waktu menuju kematian. Sehingga, waktu menjadi pendorong untuk mengisi makna hidupnya. Pada hakikatnya, umur kita merupakan jumlah dari waktu yang dipergunakan. Pada akhirnya, kita akan berjumpa dengan batas dari perjalan waktu  yaitu kematian. Dengan kata lain, makna hidup bukanlah berapa lama kita hidup tetapi berapa efektif kita memanfaatkan waktu.
Waktu yang kita lewati tidak akan pernah terasa, kita tentu merasakan bersama bahwa sepertinya baru saja kemarin kita berada di hari jum’at, sekarang sudah masuk hari jum’at, waktu berlalu begitu cepat, begitu singkat. Al-qur’an memerintahkan manusia untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, bahkan diturunkannya umat manusia untuk mengisi seluruh waktu dengan berbagai amal kebaikan dengan mempergunakan semua daya yang dimiliki. Sebab nantinya apa yabg telah kita lakukan akan di mintai pertanggung jawaban oleh Allah swt, sebagimana hadits nabi, dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Muhammad, beliau bersabda: “tidak akan bergerak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sampai dia ditanya lima pertanyaan: Tentang umurnya ke mana dia habiskan, tentang masa mudanya di mana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia belanjakan, dan apa yang sudah di amalkan dari ilmunya”(HR. at-Tirmidzi).
Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya tidak selalu demi kepentingan diri sendiri, namun memberikan kemanfaatan pada orang lain juga merupakan kebaikan. Tidaklah berharga kehidupan kita jika kita hidup hanya mencari sesuatu untuk diri sendiri, belajar, bekerja, beribadah, bersenang-senang, tua kemudian mati tanpa ada kepedulian terhadap sesama. Jika ingin menjadi orang yang benar-benar hidup, gunakanlah hidup ini untuk memberikan manfaat kepada orang lain dalam hal kebaiakan, untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada allah. Hidup akan lebih bermakna bila kita dapat mengambil peran sebagai orang yang bermanfaat bagi orang lain dan berhubungan dengan sang pencipta.  Maka, waktu yang dipergunakan benar-benar bermanfaat dan penuh dengan keberkahan.
Bagi orang-orang yang cerdas, waktu benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya, misalnya, digunakan untuk mencari ilmu yang bermanfaat, membaca, mengarang, membuat keterampilan, mengkaji, berbuat sesuatu demi kemaslahatan semua orang, nabi pernah bersabda, “manusia yang baik adalah manusia yang paling berguna atau yang paling bermanfaat bagi orang lain”, dan digunakan untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah swt.
Dalam kehidupan ada tiga hal yang tidak akan pernah kembali: pertama, kata yang telah kita ucapkan, kedua, waktu yang telah berlalu, ketiga, kesempatan yang diabaikan. Waktu hari ini tidak akan pernah bisa terulang kembali pada esok hari, begitu juga hari yang pernah dilewati kemarin. Maka jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus jauh lebik baik dari hari ini. Siapapun yang menginginkan keberuntungan hidup dunia juga akhirat, maka janganlah sekali-kali menyia-nyiakan waktu karena penyesalan dunia dan akhirat akan kita dapati. Marilah kita memanfaatkan waktu hidup yang sangat singkat ini dengan sebaik-baiknya dan kerjakanlah sesuatu yang dapat kita tinggalkan bagi generasi selanjutnya dan isilah waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.

Baca Selengkapnya ....
Trik SEO Terbaru support Online Shop Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of efriyand's blogs.